Rabu, 02 Maret 2011

Puisiku II

Dunia dalam Kepalsuan

Dalam hitam kegelapan hidup
Terpasung dan terkurung
Tertusuk oleh hawa dingin
Hawa dingin dari manusia dalam kepalsuan
Aku dibiarkan sendiri di sini
Dalam kegelapan bagaikan orang buta
Hingga menganggap,
kebohongan adalah kejujuran
impian adalah kejadian
kesalahan adalah kebenaran
khayalan adalah kenyataan
hingga siksaan, bagai kenikmatan
Aku terjebak di dunia dalam kepalsuan
Terperangkap hukum yang tak adil
Tanpa kata-kata, tanpa penjelasan
Aku hanya mampu mencari
Mencari seseorang
yang menyebabkan, darah hitam pekat menampakkan dirinya
Dan kini,
tak ada lagi fakta
Hanya cerita fiktif belaka yang nampak
dan aku berdiri di sini
di dunia dalam kepalsuan
akan terus berjuang berjuang dan berjuang
serta berharap
suatu nanti
akan menyala terang
satu lampu kehidupan baru
tanpa kebohongan
tanpa kepalsuan

Oleh: Rival Darmawan

Puisiku

Bunga Mawar Berduri

Bantu aku...
Keluarkan!
Mereka berlari....
Warna itu memudar...
Angin itu begitu tajam
tiupkan sejuta debu padaku
Mereka terus mengejarku meski dalam kelam
Mereka membutakan aku
dan meninggalkan karat dalam memori
Magnet dalam hatiku terus menarik paku ke dalamnya
Tertusuk pelahan
Membuat retakan dan membiarkan butiran cahaya keluar
Meski jembatan tlah tercipta dan meski sayap telah mengepak
Aku tak bisa menerawang dengan cahaya
tak bisa tegas dengan petir
tak bisa terbang dengan udara
tak bisa hanyut dalam ketenangan dengan air
tak bisa tegar dengan tanah
Aku hanya terbakar dengan api
Meski hujan tak berhenti,
mataku tetap tak dapat menerawang
Akal sehatku tetap melayang
Arang dari jiwaku terus terbang mencai keputusan
Namun seperti kataku,
Bunga Mawar tetap BERDURI

Minggu, 20 Februari 2011

Puisi 5 Menit II :3

Datang untuk Pergi

Setiap keheningan meninggalkan perih
Setiap kesunyian meninggalkan duri
Dan kesendirian kan merasuki hati
Dalam rasa bersalah
Menghentikan aliran darah
Saat dia pergi
hanya tangis yang menemani
hanya rasa sesal yang terus menjepit hati
Semua terkubur,
Semua melebur
Warna hidup dan cahaya kini mejadi kabur
Mencari kiri untuk mengetahui kanan
Melihat hitam untuk menemukan putih
Merasakan benci untuk diketuk cinta
Kau memasuki tanah untuk menuju langit
Manusia datang, dan akhirnya pergi
Hanya asa yang mampu menanamkan keyakinan
Untuk menemukan satu kekekalan dan keabadian
Kekekalan cita
keabadian cinta

Rabu, 09 Februari 2011

Puisi 5 Menit :3

Tak Perlu Seribu Kata

Percuma kau melihat
Apa yang kau lihat tak kau ingat
Percuma kau mendengar
Apa yang kau dengar tak kau resapi
Percuma kau bicara
Apa yang kau ucapkan tak kau lakukan
Lebih baik buta namun dapat menerawang
Lebih baik tuli namun dapat merasa
Lebih baik bisu namun memiliki seribu kata hati
Buktikan!
Jelaskan!
Terangkan!
Berikan cahaya,
Berikan ilustrasi,
Tak perlu seribu kata
Namun kau perlu seribu pertimbangan

Oleh: Rival Darmawan